MAMUJU, MEDIAEKSPRES.id – Tiga (3) anak bersaudara di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) tidak bersekolah karena tak memiliki seragam. Ayah dari ketiga anak tak mampu membelikan seragam dan buku karena tak bekerja, sementara ibunya hanya pembantu rumah tangga.
“Mau bagaimana beli seragam dan buku pelajaran. Saya bahkan tidak bisa bekerja karena kondisi fisikku, sementara ibunya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga,” kata Muliadi, ayah ketiga anak bersaudara yang tak bersekolah saat ditemui, Jumat, 30 September 2022.
Tiga anak perempuan dari pasangan suami istri Muliadi, 53 tahun dan Jumiati, 50 tahun itu masing-masing bernama Anisa, 13 tahun, Nisa, 9 tahun dan Alexa, 7 tahun. Mereka tinggal di Lingkungan Tarambang, Kelurahan Mamunyu, Kabupaten Mamuju.
Anisa sendiri sebenarnya telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) namun tak mampu lanjut tingkat SMP karena tak memiliki uang beli seragam. Sementara kedua adiknya Nisa dan Alexa sempat mendaftar di SD Binanga 1 namun tak pernah masuk sekolah karena tak memiliki seragam.
“Yang satu (Anisa) mau lanjut SMP cuman terkendala biaya buat beli seragam. Sementara dua adiknya sempat mendaftar di SD,” ujar Muliadi.
Muliadi menuturkan kedua anaknya Nisa dan Alexa sempat mendaftar di SD Binanga 1 Mamuju dan diterima. Terkendala biaya beli seragam kedua bersaudara itu bahkan tidak pernah masuk sekolah.
“Sudah daftar saja tapi tidak pernah masuk sekolah, Nisa itu sebenarnya kalau sekolah sudah kelas 5 SD. Kalau Alexa kelas 2 SD,” pungkasnya.
Muliadi sendiri mengalami cacat fisik akibat kecelakaan kerja pada 2017 lalu yang mengakibatkan kedua tangannya putus dan kakinya bengkak akibat tersengat listrik. Kondisi itu membuatnya tak mampu mencari nafkah untuk ketiga putrinya.
Sementara sang ibu Jumiati hanya bekerja jika mendapat panggilan dari pemilik rumah tempat bekerja. Bahkan kadang ia tidak mendapat panggilan dan hanya tinggal di rumah.
“Saya kecelakaan kerja 2017 waktu perbaiki listrik itu, tangan dua-duanya meleleh dan betis ini hampir putus juga. Sekarang kalau saya makan saja disuap, berdiri saja sulit. Sementara istri kerja kalau ada lagi yang bisa dikerja, kalau tidak ya dirumah,” imbuhnya.
Muliadi mengaku untuk makan sehari-hari, ia dan keluarga harus menghemat. Bahkan keluarganya masih menggunakan kayu untuk memasak. Tanah dan rumah yang ditempati pun merupakan pemberian dan bantuan dari warga.
Baca juga
“Kita masak masih pakai kayu juga, sebenarnya adaji kompor cuman ya harus diatur pemakaian gas. Kalau untuk tanah yang ditempati ini dari BAZ (Badan Amil Zakat) sementara kalau rumah ada bantuan dari warga,” ungkapnya.
Atas kondisi keluarganya, Muliadi berharap pemerintah mampu memberikan kepastian memperolah pendidikan bagi ketiga anaknya. Ia mengaku sedih saat melihat anak sekitar wilayahnya bersekolah sementara ketiga anaknya hanya tinggal di rumah.
“Saya berharap kita bisa dilihat (kondisi keluarga), saya ini dulu pekerja keras sebelum kena musibah itu (tersengat listrik). Semoga ya ada perhatian, anak-anak saya bisa sekolah, belajar sama teman-temannya,” ucap Muliadi berurai air mata.
Reporter : (*/Eka)
Editor : Mediaekspres.id
Comment