by

Perubahan Nama Bandara Tampa Padam, PMII Minta Akomodir Keinginan Masyarakat

MAMUJU, MEDIAEKSPRES.id – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesi (PMII) Cabang Mamuju meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan DPRD Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) untuk mengakomodir keinginan masyarakat.

Hal itu disampaikan Ketua Cabang PMII Mamuju, Syamsuddin merespon usulan Pemprov untuk mengganti nama Bandara Tampa Padang menjadi Bandara Hajjah Andi Depu Tampa Padang.

Lewat surat yang beredar di Media Sosial (Medsos), Pemprov telah mengeluarkan surat permintaan persetujuan DPRD Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) untuk menggati nama Bandara Tampa Padang.

“Pemerintah dan DPRD harus mengakomodir apa yang menjadi keinginan masyarakat supaya tidak terjadi konflik. Jika sampai terjadi konflik hanya karena mempertahankan ego masing-masing, kita sendiri yang malu,” ungkapnya kepada mediaekspres.id, Rabu (20/04/22).

Sebab kata Syamsuddin, jika pemerintah ingin mengorbit salah satu nama pahlawan yang ada di Sulawesi Barat. Maka harus didasari dengan alasan yang tepat sehingga tidak menimbulkan polemik. Karena menurut Syamsuddin, pahlawan di Sulbar sangat banyak. Seperti Muhammad Amier (Kapten Amir), Hamma’ Saleh (Muhammad Saleh), Puanna Su’ding, I Calo Ammana Wewang (To Pole di Balitung), H. M. Djud Pantje, Abd. Wahab Anas, H. Abdul Rachman Tamma, Riri Amin Daud,  HJ. Sitti Maemunah, Abdul Rauf, Baharuddin Lopa, Andi Tonra, Raden Soeradi, I Masa (Ibu Seluruh), Hj. Rosmiani Ahmad, Punggawa Malolo dan beberapa pejuang lainnya.

“Apalagi perubahan nama tesebut masih menuai polemik dikalangan masyarakat. Terlebih lagi sepengetahuan kami, masyarakat yang ada di Kecamatan Kalukku justru menginginkan nama bandara dirubah menjadi nama Bandara Udara Punggawa Malolo. Salah Satu Pahlawan di Kalukku,” kata Syamsuddin.

Baca juga

Peringati Harlah ke-62, PMII Mamuju Lakukan Kegiatan Sosial

Refleksi 62 Tahun PMII

Sementara itu, dilansir dari katinting.com, Sekretaris Provinsi Sulbar, Muhammad Idris mengatakan menculnya kembali perubahan nama bandara Tampa Padang itu karena dianggap sudah selesai.

“Bahwa dulu ada diskusi akhir itu untuk validasi dan kita anggap ya ini Keputusan Gubernur, bahwa mempertimbangkan berbagai macam hal. kita sudah akomodasi semuanya,” kata Sekprov Sulbar, Selasa (19/04/22).

Ditanya terkait sikap DPRD Sulbar yang kukuh menolak perubahan nama itu, karena tidak menginginkan adanya gejolak dari masyarakat, Sekprov meyakini hal itu tidak akan terjadi jika para elite politik mampu menyampaikan ke masyarakat bahwa tidak ada substansi yang dihilangkan dari perubahan nama bandara.

“Kita menambahkan saja satu substansi yang membesarkan daerah ini (Hajjah Andi Depu). Menurut saya bisa diterima oleh masyarakat. Tergantung dari elite politik (menyampaikan ke masyarakat),” sebutnya.

Dia mengungkapkan jika perubahan nama Bandara harus diperdakan, maka harus diperdakan, namun kalau pertimbangan lain secara teknografi, Gubernur sudah menyampaikan bahwa perubahan nama ini sudah lama didiskusikan.

“Dan bukan baru kali ini di buka untuk membangun konfirmasi publik,” ungkapnya.

Muhammad Idris menjelaskan, perubahan nama bandar udara tampa padang menjadi bandar udara Hajjah And Depu Tampa Padang harusnya dilihat menjadi satu keuntungan bersama karena menurutnya tidak mengurangi sedikitpun subtansi yang selama ini dipersoalkan.

“Kita tidak menghilangkan Tampa Padang disitu, Mamuju nya juga kita tidak hilangkan. Kita hanya menambahkan nama pejuang yang memang layak untuk kita besarkan,” sebut Sekprov Sulbar.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat ini Pemprov Sulbar akan duduk bersama dengan DPRD Sulbar untuk merampungkan perubahan nama bandara ini.

“Secepatnya lebih bagus. Sebisa mungkin (sebelum berakhir masa jabatan Gubernur) bisa disebut bagian dari peninggalan Gubernur,” tutupnya.

 Reporter: Irwan

Editor: Mediaekspres.id

Comment