by

Gelar Long March, FPPI Mamuju Nyatakan Golput di Pilkada

MAMUJU, MEDIAEKSPRES.id – Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Pimpinan Kota Mamuju menggelar aksi long march, Rabu (2/12/2020).

Aksi tersebut sebagai bentuk pernyataan sikap Golput pada Pilkada Mamuju, 9 Desember mendatang.

Mereka mengawali rute dari sekretariat FPPI Mamuju di BTN Ampi, melalui Jalan Abdul Syakur, kemudian berputar ke arah jalur Karema. Aksi long march tersebut berakhir kembali di sekreatriat FPPI.

Sepanjang aksi, FPPI bersama Mahasiswa Peduli Ekonomi Kerakyatan (MAPER) dan Komunitas Mahasiswa untuk Kedaulatan Rakyat (KOMKAR) membagikan selebaran berisi pernyataan sikap jelang Pilkada Mamuju.

 

Golput sebagai Sikap Politik Pemuda Merespon Pilkada Serentak

FPPI Mamuju menilai pilihan Golput bukanlah pernyataan bahwa tidak ada figur yang cocok memimpin Kabupaten Mamuju.

Figur maupun partai sebagai pelaku sistem perpolitikan Indonesia pada umumnya sudah sepenuhnya bobrok. Sebaik apapun citra yang ditampilkan oleh calon yang sudah terseleksi oleh oligarki partai, tidak akan berpengaruh pada perubahan rakyat — dalam hal ini petani, nelayan, buruh, kaum miskin kota, tenaga kontrak dan kaum tertindas lainnya.

Sistem ini malah akan membuka ruang bagi partai untuk memonopoli oligarki atas kontrol politik yang telah dilakukan, serta memperkokoh penetrasi kapital atas proses politik dan sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia, khususnya Kabupaten Mamuju.

“Semangat Demokrasi Reformasi 22 tahun silam adalah lahir dari kesadaran demokrasi atas hak dasar kedaulatan rakyat yang diperjuangkan oleh para pendahulu, untuk menumbangkan rezim yang tidak berpihak kepada rakyat. Di tahun 2020 kali ini akan dilaksanakan pesta demokrasi, yaitu pemihan kepala daerah serentak termasuk Kabupaten Mamuju. Di tengah hiruk-pikuk dan fanatisme sirkus pemilihan Bupati 2020, banyak kemudian yang mengkampanyekan jangan Golput karena satu suara yang akan menentukan di pemilihan 9 Desember mendatang.”

“Ini adalah hal wajar karena mereka hidup di bawah sistem kehidupan yang nyaman, namun kami memahami bahwa kemiskinan imajinasi mereka tidak luput dari pengaruh ekonomi, sosial dan politik yang mengungkung daya pikir mereka,” tulis FPPI Mamuju.

FPPI pun mengurai alasan mereka tidak memilih pada 9 Desember nanti: tidak sepakat dengan sisitem politik yang dibangun oleh partai selama ini, tidak sepakat terhadap janji-janji politik yang dibangun terhadap rakyat, tidak sepakat dengan adanya kontrak politik yang dibangun bersama capital, serta pemilihan tidak relevan dengan kebutuhan hidup warga karena hanya melahirkan oligarki kekuasaan.

Pilihan yang dianggap rasional tersebut diambil guna memulai kembali ikhtiar menuju demokrasi substansial dan menolak demokrasi “jadi-jadian”, dengan pilihan calon medioker hasil dari politik transaksional oligarki yang nihil dalam komitmen, baik itu bicara lingkungan, peniddikan, kemiskinan, korupsi, infrastruktur, pensejahteran nelayan, tenaga kontrak dan petani, serta tak memiliki tawaran alternatif untuk menjawab persoalan sosial di daerah.

Golput bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari protes terhadap kondisi perpolitikan hari ini. FPPI menyadari bahwa kritisme yang sanggup melampaui momen pemilihan umum sangat penting untuk dijaga.

“Oleh karena itu kami akan tetap mengambil sikap kritis, terlepas dari siapapun yang terpilih nantinya, ini bukan soal ingin memboikot pemilu, tetapi cara menyadarkan oligarki bahwa menyuruh rakyat untuk berpartisipasi dalam sandiwara pemilu, sama saja dengan melenggangkan pembodohan, merusak citra arti dari demokrasi, serta bertolak belakang dengan cita-cita membangun masyarakat yang makmur, adil serta maju,” tegas FPPI Pimkot Mamuju.

Politik gerakan tersebut sebagai upaya mencerdaskan rakyat atas praksis politik yang makin jauh dari semangat Reformasi yang lahir dari kesadaran demokrasi atas hak dasar untuk kedaulatan rakyat.

Hak itu dijamin konstitusi dalam putusan MK Nomor 011-017/PUU-1/2003 yang menyebutkan hak warga negara untuk memilih dan dipilih adalah hak yang dijamin oleh konstitusi dan undang-undang.

Reporter: Shermes

Editor     : Mediaekspres.id

Jalan menuju neraka ditaburi dengan niat baik.

Karl Marx

Comment