MATENG, MEDIAEKSPRES.id – Bencana alam banjir bandang yang menimpa Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Senin (13/7) lalu, harus menjadi pelajaran bagi Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) agar lebih memperhatikan keseimbangan alam.
Hal tersebut disampaikan mahasiswa yang tergabung dalam PMII Cabang Mateng, saat menggelar aksi penggelangan dana bantuan Masamba, Rabu (14/7/2020).
Menurut koordinator aksi, Abidin, bencana di Masamba ada hubungannya dengan ketidakseimbangan alam. Pemkab Mateng harus belajar dari musibah tersebut.
“Pemkab Mateng harus belajar dari bencana di Masamba. Terjadinya longsor dan banjir diakibatkan tidak seimbangnya lagi alam sekitar, hutan yang mulai gundul akibat ulah tangan manusia sendiri,” urainya.
Baca juga:
Ia pun mengenang kembali bencana banjir bandang di Desa Salule’bo, Kabupaten Mateng, tahun 2013 lalu.
Untuk itu, pihaknya menyarankan agar pemerintah daerah menggalakkan gerakan reboisasi, guna efektivitas penyerapan air.
Lebih jauh, Abidin menjelaskan bahwa kondisi geografis Luwu Utara dan Mateng hampir sama.
“Luwu Utara saat ini didominasi oleh lahan sawit mencapai 18.833,55 hektar, dan ada 3 pabrik yang terbangun. Persis di Mateng, kita juga mengola lahan sawit ribuan hektar, dan ada berapa pabrik sawit yang beroperasi,” kata Abidin.
Keadaan itu, lanjutnya, bisa menjadi pertimbangan pihak pemerintah daerah untuk tidak lagi membuka lahan sawit baru, dengan mengorbankan keberadaan hutan. Ekositem perlu menjadi perhatian semua pihak.
Abidin berharap, Pemkab Mateng melakukan analisis terhadap dampak lingkungan yang terjadi, jika ada program pembukaan lahan hutan.
“Kecuali sifatnya urgen, tapi kalau belum, sebaiknya dipikirkan matang-matang oleh pemerintah,” kuncinya.
Reporter: Jeky
Editor : Mediaekspres.id
Kata bijak “Bumi adalah rumahku dan rumahku adalah bumiku.”
Anonim
Komentar