MEDIAEKSPRES.id – Virus Corona dengan nama lain Covid-19 masih hangat, jadi isu sentral di permukaan, meski sudah berubah. Tidak kayak dulu lagi, Masyarakat ketakutan, panik, bagaikan negeri dilanda perang hebat, rakayat banyak yang mati, negara krisis kembali seperti pada tahun 1998.
Betapa tidak, virus itu — ketika menyerang — dapat merenggut nyawa. Kenapa? Karena covid bukan hanya menyerang paru-paru tapi juga jantung, otak, penyempitan pembulu darah. Penyebarannya juga sangat cepat — kalau tidak ditangani — sudah pasti menularkan ke orang lain.
Di pelbagai negara begitu, rakyatnya berjatuhan jutaan nyawa melayang, karena membandel. Yah tentu saja pemerintahnya tak memiliki strategi jitu untuk menangani pandemi covid-19 ini.
Apakah Indonesia akan begitu? Entahlah semoga tidak.
Pandemi covid-19 ini, adalah perang, perang kompetisi antar negara, siapa yang hebat dia yang memenangkan peperangan.
Perangnya ada tiga, membunuh secara perlahan — kayak zaman rimba — siapa yang kuat dia yang menang, artinya, ketika terserang covid-19 tentara di dalam tubuh harus hebat, menembak musuh yang menggerogoti tubuh. Kalau tentara tubuh kalah, sudah pasti tubuh akan melemah dan menyebabkan kematian.
Panik dan ketakutan, zaman ini, zaman milenial, perang melawan media sosial, cyber propanganda untuk melemahkan rakyat. Kerjanya, pelbagai sumber informasi bersilewerang menakut nakuti, tentu juga hoax yang berbahaya. Jika tak punya kecakapan dalam menelaah informasi, maka akan terjebak dalam jebakan cyber.
Ekonomi melemah — bahkan dunia merasakan dampaknya — banyak pengusaha yang gulung tikar, para investor berdiam, karena terdampak, pada sektor — utamanya — pariwisata, transportasi, infrastruktur dan lain. Maka rakyat miskin tambah miskin, buruh banyak yang diberhentikan kerja, bagi yang kerja tentunya pergi pulang kantor dan rumah.
Tukang ojek, becak merenung, berteduh di pangkalan dan di bawah rindang pohon — hingga tertidur di trotoar jalan — menanti penumpang yang tak kunjung datang. Dia menangis dalam hati, harap hari ini dapat rezeki untuk asap di dapur tetap mengepul.
Negara hebat, negara harus mampu keluar dari musibah ini. Karena disetiap musibah pasti ada berkahnya. Pemerintah bekerja keras — rakyat harus mendukungnya dan tidak boleh membandel — bersatu padu, dikalau tidak pandemi tidak akan usai. Dengan itu, tentu pemerintah harus hadir — pusat hingga daerah — memiliki program perlindungan sosial, melindungi rakyatnya yang miskin agar dapat bertahan hidup di tengah pandemi.
Kebandelan akan berdampak panjang, tangis, kesedihan akan berderai, begitu juga tenaga medis serta cleaning service sebagai garda, mereka berjibaku bekerja dengan cinta. Tangan-tangan hebat tak henti, mengobati, menjaga kebersihan dan beri semangat pada pasien, meski harus melawan rindu — karena tak bisa pulang — dengan keluarganya istri dan anak-anak mereka.
Apa lagi di bulan Ramdhan menyambut Idul Fitri, tentu mereka sangat rindu, mendengar takbir berkumandang di bulan nan suci, melaksanakan shalat Idil Fitri, berkumpul, salam-salaman, maaf-memaafkan, menikmati makanan, ketupat, serta makanan lain yang nikmat.
Namun semua itu, harus di lawan untuk tidak mendekatinya, tidak bisa berkumpul apa lagi mudik massal, tidak boleh maksa kalau maksa yah bandel. Resikonya bisa positif massal nantinya. Lebih baik menghindari dari pada mengobati, rumah sakit penuh pasien covid, tenaga medis yang repot.
Tidak, rakyat tidak bandel, hanya saja rakyat tidak ingin di bohongi, dengan ketidak jelasan pemerintah mengenai covid 19. Harus jelas Ada yang sembuh ada yang terjangkit yang sembuh terisolasi, obatnya apa?
Bantuan dari pusat, daerah dan desa jangan di sunat nanti dosa. Kalau tidak takut dosa, takutlah sama KPK, jeruji besi bisa menanti. Bantuannya ada tunai dan non tunai, kalau tunai dalam bentuk uang 600 ribu rupiah, masyarakat terima selama tiga bulan, non tunai berupa sembako ada beras, terigu, minyak, susu, telur dan lainnya.
Namun fakta, masih ada masyarakat yang berkicau tak dapat bantuan, itu karena apa?
Penyalurannya semraut, data tak jelas aneh bin ajaib saja, masyarakat mampu juga dapat, pejabat, bahkan PNS. Padahal bantuan itu utuk masyarakat miskin terutama yang terkena dampak pandemi. Keliru iya, pemerintah yang keliru, datanya ngawur, juga di politasiasi.
Apakah presiden tau, entahlah kejadian ini terjadi di daerah hingga desa — lebih-lebih mungkin di pusat. Intinya niat meringankan ekonomi masyarakat sudah tercapai, di tengah pandemi. Apa lagi pandemi akan berlangsung lama dan tidak bisa hilang.
Kita harus hidup berdampingan dengan covid-19, kata Presiden kita bapak Jokowi Dodo. Mengapa, karena ada potensi virus tersebut tidak bisa hilang. Tentu saja himbaun presiden itu rujukan dari WHO.
Memang sih ada baiknya, hidup berdampingan dengan covid-19, bukan berarti menyerah atau pemisimis, justru salah satu cara masyarakat agar keluar dari keterpurukan ekonomi, dapat beraktifitas namun tentu sesuai protokoler yang ada.
Penulis : Muh. Iksan Hidayah
Comment