by

Memaknai Tradisi Makan Marawang

Penulis: Ersa Putri Andaresta 

(Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Jambi)

 

Merindukan indahnya alam semesta.  Tungkukan jiwa sejukan rasa. Makan merawang adalah tradisi Melayu, tradisi leluhur untuk tetap lestari dan beregenerasi. Kita berpiknik mengasa kepekaan jiwa pada kedipan mata memesona takjub akan sebuah ciptaan sang Mahakarya. Lukisan senja terjaring dalam kenangan yang terhantarkan lewat angin berhembus mengenggam janji, janji leluhur untuk alam tetap lestari terwariskan pada generasi dengan hafalkan mantra pada romansa yang temaram.  

JAMBI,MEDIAEKSPRES,id – Istilah piknik adalah istilah yang tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Piknik dikenal dengan kegiatan rekreasi untuk makan bersama di alam terbuka.

Pada penjelasan KBBI, piknik merupakan kegiatan berpergian ke suatu tempat di luar kota. Tentu untuk bersenang-senang dengan membawa bekal makanan dan sebagainya.

Piknik biasanya dilakukan masyarakat sekarang sebagai kegiatan untuk sekedar melepas penat dan beristirahat. Ternyata dari zaman dahulu tradisi piknik memang sudah sering dilakukan, bahkan ada salah satu tradisi yang kegiatannya mirip dengan kegiatan piknik.

Tradisi unik ini berasal dari masyarakat bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung. Tradisi ini dikenal dengan tradisi makan merawang.

Makan merawang atau bisa disebut juga dengan makan berawang adalah kegiatan makan bersama yang biasa dilakukan oleh masyarakat Melayu Jambi.

Tetapi, merawang tidak semata-mata sama dengan piknik, banyak makna kearifan lokal yang dapat digali dari tradisi ini.

 

Mengenal dan Memaknai Merawang/Berawang

Merawang atau Berawang sendiri diartikan sebagai kegiatan makan di alam bebas.

Dulu tradisi merawang dilakukan setelah panen padi atau saat membuka lahan untuk berkebun. Setiap orang yang datang masing-masing membawa nasi, dan lauk pauknya untuk dibagi-bagi dan makan bersama di tempat dilaksanakannya merawang dengan suasana hangat, akrab, dan guyub. Tapi sekarang merawang bisa dilakukan kapan saja, bisa diadakan pada saat acara besar atau penyambutan pejabat yang datang ke daerah Muaro Jambi.

Merawang tidak hanya sekadar euforia dalam makan bersama saja, tetapi memiliki muatan kearifan lokal dan makna yang bisa digali.

Salah satunya adalah makna kebersamaan. Saat merawang berlangsung semua masyarakat berkumpul di tempat yang telah disediakan lalu bahu membahu untuk menyiapkan makanan.

Setelahnya mereka akan makan bersama dan bercengkrama. Artinya, merawang merupakan tradisi yang memiliki makna kebersamaan di dalamnya.  Karena semua rangkaian persiapan sampai acara selesai, dilakukan bersama dengan suasana yang hangat dan akrab. Selain itu, merawang juga sebagai upaya untuk menjalin silahturahmi antar masyarakat agar tetap hidup aman dan damai.

Makna lain dari kegiatan merawang adalah mencintai alam sekitar. Bagi orang terdahulu alam merupakan sumber kehidupan dan sumber pengetahuan.

Hal ini dipertegas dengan ungkapan adat ”alam terkembang jadi guru”. Jadi, bukan tanpa alasan kegiatan merawang dilaksankan di alam terbuka, hal tersebut dilakukan untuk lebih dekat dengan alam dan lebih memaknai alam. Selain itu juga sebagai bentuk syukur terhadap alam yang telah menyediakan bahan pangan yang berlimpah ruah.

Bentuk syukur itu dapat tergambar dari kegiatan saling berbagi antar mahluk hidup. Sisa dari makanan merawang tidak semata dibuang begitu saja.

Ada makna terselubung di dalamnya. Makanan sisa merawang biasanya dibuang di sungai, di bawah pohon, ataupun di sebar di tanah, hal ini bermakna bahwa orang-orang yang merawang juga peka terhadap mahluk hidup lain seperti serangga, ulat, unggas, dan yang lainnya. Karena sesungguhnya sebagai sesama mahluk ciptaan tuhan kita harus saling peduli dan mengasihi.

Seperti kata pepatah adat “Duduk sama rendah, tegak sama tinggi”. Merawang tidak memandang kelas sosial. Mau itu pejabat, orang kaya, orang miskin, orang terpandang sekalipun.

Semua duduk lesehan bersama serta saling melempar kelakar tanpa pandang buluh. Hal ini bermakna bahwa setiap insan manusia sama derajatnya di hadapan tuhan, dan sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang perlu dilaksanakan yaitu hidup saling mengasihi dan menghargai.

Ternyata tradisi merawang erat kaitannya dengan nilai kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Tradisi yang terlihat seperti tradisi makan bersama biasa ternyata di dalamnya mengandung makna dan nilai kearifan lokal yang sangat kental.

Tak heran jika masyarakat Melayu Jambi dikenal dengan masyarakat yang arif dan bijaksana, karena seluruh tradisinya mengandung nilai kearifan lokal yang membimbing masyarakatnya.

Semoga tradisi ini tidak lenyap dimakan zaman, dan akan tetap lestari agar masyarakat Melayu Jambi tetap bisa menjadi masyarakat yang berbudi dan arif.

 

Editor : mediaekspres.id

Comment