oleh

Gusdur, Milenial Merindukanmu

 

Penulis: Salding Matto

Sosok wajah yang tak pernah terlihat murung, pasrah dan bingun, wajah yang penuh dengan kecerian itulah gambaran bahwa tak ada kata menyerah ketika berbicara soal kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan.

Beliau  adalah orang nomor 1 Indonesia KH. Abdrahman Wahid cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH. Hasyim Asy’ari, tetapi kadang namanya akrab dikenal dengan sapaan Gusdur, beliau punya karakter yang humoris, ketika berbicara dengan nada yang Lemah lembut bahasa yang sopan dan lugas namun tegas, dan masih banyak dari pribadi beliau yang penulis belum kenal lebih dalam lagi.

Desember adalah bulan Gus Dur dan di banyak tempat orang mengadakan haul Gus Dur. Masyarakat Indonesia rindu sosok Gus Dur di tengah politisasi agama untuk kepentingan kelompok tertentu. Banyak yang ingin Indonesia tidak baik-baik saja. Sebuah sikap yang bertentangan dengan Gus Dur. Gus Dur dikenal suka membela minoritas.

Kehadiran Gusdur di Indonesia memberi warna tersendiri dalam segala hal, akan tetapi kadang saja argumen dan bahasa yang keluar dari beliau ada yang kontropersial sampai membuat heboh masyarakat Indonesia, bahkan tokoh politik dan tokoh agama pun ikut mengomentari. Sampai ada yang menghujatnya namun uniknya hujatan itu tak membuatnya membalas, tetapi justru malah kontropersial lagi Karna yang tau argumen Gusdur yah Gusdur itu sendiri.

Sejak beliau di gulingkan dari kursi presiden yang dilakukan oleh oknum yang tak bertanggung jawab, kesalahan yang dituduhkan kepada Gusdur belum terbukti secara hukum, hingga sampai saat ini Gusdur hanya merespon dan berkata
” Nanti sejarah yang membuktikan”.

Jika dikaitkan dengan zaman sekarang ini atau lebih dikenal dengan istilah Zaman Milenial, zaman yang menuntuk kita untuk melek dengan teknologi yang canggih.

Misalnya media sosial banyak sekali yang bisa dijangkau dari medsos namun tidak dengan teladan dan akhlak ,tetapi saat ini Terkhusus negara Indonesia bukan lagi soal kontropersial tetapi narasi yang terbangun adalah hoaks, ujaran kebencian, provokasi Saya  menduga seakan kita ini hidup di awan kebencian.

Pesan yang disampaikan gusdur nyata nampaknya, salahsatunya adalah bicara agama namun bukan tupoksinya sehingga banyak yang salah paham terlebih lagi paham yang salah, lalu apa yang dilakukan oleh para pemuka agama yang sesungguhnya? Tentu saja mengajak kita untuk kembali kepada khittah sebagai org beragama, tapi jika tidak dikerjakan secara bersama-sama untuk menghalau gerakan yang terorganisir ini maka kita akan kalah.

Namun takdir berkata lain gusdur terlalu cepat dipanggil oleh Tuhan, tetapi beliau banyak meninggalkan pelajaran dan Hikmah untuk bangsa ini, Namun kadang pesan atau kelakuan gusdur multitafsir hingga jarang betul memahami apa sebenarnya yg disampaikan gusdur, maka tidak Salah lagi kalau ada yang mengatakan
“Gusdur itu melampaui batas normal manusia indonesia”

Mari meneladani dan melanjutkan perjuangan sang guru bangsa, beliau telah meletakan pijakan dasar perjuangan untuk bangsa yang tercinta ini, saatnya bukan cuman meneladani tetapi melanjutkan perjuanga
” Gusdur telah mengajarkan orang Indonesia sudah semestinya mendahulukan subtansial daripada bentuk” (*)

Komentar