oleh

Misteri Meninggalnya Kades Buangin buat Keluarga Belum Percaya

MAMASA, MEDIAEKSPRES.id – Meninggalnya Kepala Desa (Kades) Buangin, Kecamatan Rantebulahan Timur (Rantim), Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), Pelipus, menyisakan luka di hati keluarganya.

Menurut salah satu keluarga Kades Buangin yang enggan disebutkan namanya mengaku sampai saat ini dirinya belum percaya jika Kades Buangin meninggal murni karena gantung diri.

“Kami merasa ada kejanggalan pada peristiwa ditemukannya Kades Buangin yang tergantung di dahan pohon kopi milik warga,” kata Dia, saat dikonfirmasi via telepon selulernya, Selasa 4 Agustus 2020.

Dia mengungkapkan bahwa disekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP) ditemukan beberapa kejanggalan yang masih menjadi misteri bagi keluarga.

“Saat ditemukan tergantung, sandal yang digunakan Kades Buangin tidak copot dari kakinya. Lidahnya juga tidak keluar, serta ada beberapa puntung rokok ditemukan disana,” katanya.

Namun, kata Dia, surat wasiat yang ditemukan istrinya menjadi penguat bahwa Kades Buangin tersebut memang sudah merencanakan peristiwa tersebut jauh sebelumnya.

“Memang sebelumnya Kades Buangin mengalami beberapa masalah terkait kepemimpinannya. Mungkin saja Dia tertekan sehingga mengambil keputusan seperti itu,” kata Dia.

Dia berharap, kasus tersebut dapat terungkap sehingga keluarga yang ditinggal mengetahui secara jelas penyebab ditemukannya Kades Buangin tergantung pada dahan pohon kopi milik warga.

“Setelah peristiwa ditemukannya Kades Buangin meninggal secara misterius, sudah ada satu orang dari keluarganya yang meninggal dunia diduga akibat stres berat,” katanya.

Polisi Selidiki Kasus Meninggalnya Kades Buangin

Kasus meninggalnya Kepala Desa Buangin Kecamatan Rante Bulahan Timur Kabupaten Mamasa atas nama Pilipus pada hari Senin tanggal 26 Juni 2020 sekitar pukul 10.00 pagi, masih terus dalam penyelidikan Polisi.

“Korban ditemukan tewas tergantung di sebatang pohon kebun kopi milik warga dengan menggunakan seutas kabel saat hendak dilakukan pembagian bantuan langsung tunai (BLT) di kantor Desa Buangin,” jelas Kabid Humas AKBP Syamsu Ridwan lewat konfirmasi Kasat Reskrim Mamasa.

Kabid Humas mengatakan, berdasarkan keterangan dari saksi Albert yang tak lain keponakan korban disebutkan. Pagi itu, Korban bersama saksi Albert berangkat dari rumahnya ke kantor Desa Buangin dengan berboncengan mengendarai motor untuk menghadiri pembagian BLT kepada warga penerima Desa Buangin.

Ditengah jalan, Kades tiba-tiba meminta turun dari boncengan dengan alasan ingin buang air besar di sungai kecil, dan ke keponakannya tersebut langsung menuju kantor desa.

Cukup lama menunggu korban yang tak kunjung datang, Albert bersama Camat, Babinkamtimas dengan aparat lainnya berinisiatif mendatangi tempat korban. Tiba ditempat lokasi korban dikagetkan karena orang nomor Satu Desa Buangin telah pergi selamanya (meninggal) dengan kondisi tergantung disebuah pohon di kebun kopi milik warga, jelas Kabid Humas.

Berdasarkan pemeriksaan, tewasnya Kades Baungin yang ditemukan gantung diri itu, pihak kepolisian sampai saat ini tidak menemukan tanda–tanda kekerasan di tubuh Kades. Hanya saja, berdasarkan pengakuan istri Kades, korban meninggalkan surat wasiat untuk keluarga dan masyarakatnya untuk pamit selamanya.

”Dari pemeriksaan tubuh korban, bersama medis setempat. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Hanya saja leher korban sedikit lecet karena lilitan kabel kecil yang melingkar yang digunakan jadi alat untuk mengakhiri hidupnya. Dan selembar surat wasiat yang ditinggal yang intinya dalam intinya surat itu meminta maaf kepada keluarganya termasuk anaknya dan masyarakatnya selama dia bertugas jadi pemimpin desa untuk pamit selamanya,” tandas Kabid Humas.

Sementara itu, akibat kejadian tersebut uang pembagian BLT yang akan diserahkan kepada masyarakat terpaksa ditunda pelaksanaanya.

Reporter: Eka/Hms

Editor : Mediaekspres.id

Kata bijak: “Gelapnya misteri kejahatan bisa dibongkar ilmu pengetahuan. Forensik dapat menjelaskan yang buram, mengangkat bukti-bukti yang karam.”

Najwa Shihab

Komentar