oleh

Cerita Senja di Kampung Harmoni, Boda-Boda

Sudah tiga bulan terakhir masyarakat Boda-Boda fokus bahu-membahu melawan musuh tak kasat mata, Korona. Mulai dari menyiram lingkungan dengan cairan disinfektan, penjagaan ketat di lorong-lorong desa, hingga pemberian jaminan sosial sebagai jaminan asap dapur warga tetap mengepul di masa pandemi.

Pemerintah Desa Boda-Boda telah membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada 107 kepala keluarga. Hingga saat ini, penyaluran BLT ke warga sudah berlangsung dua kali.

Sedangkan Bantuan Sosial Tunai (BST), kata Ashardi, masyarak Boda-Boda mendapat jatah sebanyak 171 kepala keluarga.

 

Tentang New Normal yang Bikin Was-was

Pukul 06:30 sore hari di Dusun Soreang, Boda-Boda. Dikman, laki-laki paruh baya itu bersantai dengan sebatang rokok kretek niu Max – lengkap segelas kopi hitam pekat khas Mamasa.

Sembari hanyut dalam candu, ia membahas tentang kebijakan ‘absurd’ pemerintah di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

New normal sanganna le’?” Dikman ingin memastikan lagi sebutan untuk aturan baru buatan Istana itu.

Menurutnya, hidup normal ala baru di tengah pandemi memang bisa membantu penataan perekonomian yang porak-poranda diterjang korona. Namun di sisi lain, potensi penyebaran virus tersebut bisa semakin besar.

Buah pikiran penguasa di Jakarta sana, ternyata menjadi pergumulan tersendiri masyarakat pedesaan.

Hal sama juga pernah diungkapkan Ketua Forum Masyarakat Intelektual Sulawesi Barat (Formal Sulbar), Rusdi Nurhadi yang mengaku khawatir kebijakan pemerintah mengenai new normal justru menjadi jebakan bagi masyarakat.

Pembicaraan tentang new normal ini berlangsung sekitar 3 jam. Menghabiskan dua bungkus rokok dan tiga ceret kopi ukuran minimalis.

Benang merah yang bisa diambil dari diskusi sederhana malam itu; hidup new normal harus dijalani. Namun tetap selalu wasapada, dengan disiplin prosedur kesehatan – pakai masker, jaga kondisi tubuh, rajin cuci tangan.

Kami pun beranjak dari ruang tengah kediaman itu. Setelah merapalkan sebait ungkapan syukur ke Sang Semesta, kurapatkan diri ke pembaringan. Mamuju menunggu keesokan harinya.

Penulis: Shermes

Komentar