oleh

Senyuman Terakhir Pasien Kamar 314

MATENG, MEDIAEKSPRES.id – “Saya hanya pasrah saja apa mau Tuhan, apa yang mau dilakukan rumah sakit dan akan dibawa kemana saya ini.”

Ucapan terakhir seorang kakak kepada adiknya, sembari tersenyum.
***

Ini adalah kesaksian seorang adik, di saat-saat terakhir sang kakak yang terbaring menahan sakit kanker di Rumah Sakit Mitra Manakarra Mamuju.

Tanggal 10 April 2020. Sekitar jam 11 siang, kabar itu datang dari seorang kerabat yang lebih dulu mengetahui bahwa kakak yang saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Wahidin Makassar telah menghembuskan nafas terakhir.

Hati Penulis sungguh tersayat mendengar kabar itu. Bagaimana tidak, seorang pasien yang seharusnya segera diketahui penyakitnya dan dirawat sesuai protokol medis, hanya bisa meradang tanpa usaha maksimal tenaga kesehatan.

Rumah sakit hanya mampu memperlambat kematian pasien, dengan terus memberinya cairan dan butiran obat. Tidak segera dioperasi untuk mengangkat penyakit pada perutnya.

Sangat miris menyaksikan kesehatan yang ada di daerah Sulawesi Barat. Kalau melihat kisaran anggaran yang dikelola oleh kesehatan di daerah ini, semestinya tidak ada lagi pasien yang selalu mengandalkan rujukan ke luar daerah.
***

Sabtu tanggal 25 April 2020, kakak mengeluh sakit perut dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Satelit Benteng, pukul 5.30 pagi. Namun, situasi rumah sakit yang peralatannya masih sangat minim, serta kelangkaan dokter spesialis pada penyakit tertentu.

Rumah sakit tidak bisa mendiagnosis penyakit pasien. Hanya sampel dikirim ke rumah sakit yang ada di Mamuju. Lebih miris lagi, hampir tidak ada satu rumah sakit pun yang menerima kaka saya di Mamuju, karena persoalan Covid-19 — penyakit lain lantas terabaikan — walaupun nyawa sudah berada di kerongkongan pasien, terasa lucu.

Akhirnya Rumah Sakit Mitra Manakarra yang menjadi tempat rujukan si kakak malang.
Sejak tanggal 26 April April, pasien dirawat di Rumah Sakit rujukan Mitra Mankarra Mamuju — dari Rumah Sakit Satelit Benteng Mamuju Tengah.

Pasien ditempatkan di lantai 3 kamar nomor 314. Sejak masuk hari itu, kakak Penulis langsung diperiksa dan diberi cairan, sembari menunggu waktu untuk diperiksa secara serius — dan mengetahui penyakit apa yang ada di dalam perutnya.

Namun hingga beberapa hari, belum ada kepastian. Justru pihak rumah sakit mengirim sampel ke Makassar dengan biaya administrasi Rp 700 ribu untuk mengetahui penyakit apa yang diderita pasien.

Lagi-lagi persoalan dokter spesialis dan fasilitas rumah sakit. Setelah sampel tiba dalam beberapa hari, pasien harus mendapat rujukan ke Makassar karena penyakit kanker ovarium di perut.

Harus di rujuk ke Makassar (sangat miris kan).

Setelah hari ke-13 karena lagi-lagi rumah sakit di Makassar tidak ada yang menerimanya karena persoalan Covid-19, akhirnya kakak dari Penulis tersebut dipaksakan oleh keluarga untuk dibawa ke Makassar.

Tanggal 10 Mei di hari yang cerah, sang kakak menghembuskan nafas terakhir sebelum melalui operasi.

Pihak keluarga dan tentunya juga sang kakak yang telah damai di alam sana, berharap, semoga saja ini pasien terakhir yang mendapat rujukan di 3 rumah sakit dan tidak mendapat penanganan sesuai penyakit yang dideritanya.

“Senyum terakhirmu menandakan keteguhan jiwa dan kesadaran tertinggi pada kenyataan yang sedang engkau hadapi kakak.”

Cerita seorang adik terhadap kakak pasien kamar 314.

Penulis: Jeky

Editor : Mediaekspres.id

Quotes of the day “Hari ini kebutuhan dasar manusia bukan hanya tentang papan, sandang, pangan. Unsur pendidikan dan kesehatan wajib dipenuhi oleh Negara sebagai kebutuhan dasar setiap rakyatnya.”

REDAKSI

Komentar