MEDIAEKSPRES.id – Sekelumit kisah anak yatin piatu bermodal Surat Al Ikhlas dan Uang Panai (Passorong) yang belum cukup, sedang berjuang menepati janji di tengah guncangan perasaan khawatir terhadap bayangan kemalangan yang akan jadi kenyataan. Hingga akhirnya, ia hanya bisa pasrah kepada Allah SWT.
Anak itu bernama Lukman, ia sudah ditinggal ibunya sejak umur 10 tahun. Sementara ayahnya meninggal pada saat ia berumur 18 tahun. Sehingga ia harus berjuang sendiri melawan suratan takdir Ilahi.
Di mulai pada tahun 2018 yang lalu, Lukman bergabung di rombongan GP Ansor Kabupaten Mamuju, dalam agenda siarah makam para Kyai. Salah satunya di makam K. H. Muhammad Tahir (Imam Lapeo) di Campalagian — Kabupaten Polewali Mandar dan makam Kyai di Lembang — Kabupaten Majene.
Perjalanan pulang, Lukman keluar dari rombongan dan berinisiatif mengunjungi seorang wanita yang dikenal lewat Media Sosial, sekaligus membangun silaturrahmi yang pertama kalinya dengan keluarga maupun orang tua sang kekasihnya.
Pertemuan itu, Lukman sedikit berbicara dengan calon mertua, dan sesekali memperhatikan kekasihnya yang sedang sibuk menyediakan air panas. Hingga tiba waktunya, Lukman pamit kepada Calon Mertua dan kekasihnya untuk segera melanjukkan perjalanan balik ke Kabupaten Mamuju.
Seiring berjalannya waktu, pertemuan kedua Lukman dan kekasihnya yang bernama Rusiana berlangsung di Pantai Manakarra Mamuju. Saat itu, Rusiana hendak mengunjungi ibunya yang sedang berada di Kabupaten Pasangkayu. Namun karena ingin sedikit menikmati pemandangan dan suasana indah Pantai Manakarra, Rusiana menyempatkan singgah sebentar dan sekaligus mengajak Lukman bertemu di tempat itu.
Sehabis pertemuan, jelang beberapa Minggu, Lukman menghubungi Rusiana melalui via telepon selulernya. Lewat komunikasi yang berlangsung singkat, Rusiana mengucapkan kata yang sontat membuat Lukman merasa di uji.
“Saya tidak percaya semua laki-laki. Saya butuh bukti, jika memang serius temui langsung orang tuaku,” ucap Rusiana.
Tak ingin di nilai sebagai laki-laki pengecut — yang suka mempermainkan hati wanita. Besoknya Lukman beranjak mengunjungi Rusiana di rumah orang tuanya. Tetapi pada saat itu, Lukman hanya sebatas silaturahmi saja.
Awal Januari tahun 2019, Lukman kembali berkunjung di rumah Calon Mertua-nya yang bernama Ruslan. Dengan perasaan khawatir, Lukman mengungkapkan keinginannya untuk mempersunting Rusiana.
“Saya suka anak ta om.. Saya mau menikah dengan dia,” ungkap Lukman, sambil meminta maaf kepada orang tua Rusiana, karena telah lancang datang melamar sendiri. Sebelum Ruslan menjawab, Lukman terlebih dahulu menjelaskan bahwa dirinya yatin piatu.
“Berapa kemanpuanmu?” tanya Ruslan, membuat Lukman terdiam dan terlihat tegang dari raut wajahnya.
Namun karena Ruslan tak menginginkan berhenti disitu. Ia kembali mengajukan pertanyaan dengan menyebut angka. “Lima Belas Juta, sanggupko?
Lukman menjawab “tidak” dengan mempertimbangkan kemanpuannya.
Selanjutnya Ruslan kembali menawarkan Dua Belas Juta. Lukman hanya manpu menyebut angka Tujuh Juta.
“Iya kauji. Jadi kapan kamu mau?” kata Ruslan dengan santai kepada Lukman.
“Satu tahun kedepan om,” jawab Lukman yang membuat Ruslan ketawa mendengar jawaban calon menantunya.
Setelah ada kata sepakat, Lukman-pun pamit kepada calon mertuanya dan kembali ke Mamuju.
***
Tidak terasa waktu mulai berlalu. Pekerjaan mengurus peternakan milik kerabatnya selama Sembilan bulan di Kabupaten Mamuju Tengah tidak membuahkan hasil. Lukman kemudian memutuskan kembali di Mamuju dan numpang di Sekretariat GP Ansor Sulawesi Barat.
Selama di Sekretariat GP Ansor, Lukman sering mengantar dan mengawal Kyai berceramah di berbagai tempat di Sulawesi Barat. Berbagai usaha ia juga lakoni, termasuk bekerja sebagai tukang servis Ac dan bahkan ia pernah magang di salah satu perusaan media di Mamuju.
***
Detik-detik pergantian tahun 2019, terompet dan petasan mulai terdengar ramai, bertanda memasuki bulan yang dijanjikan Lukman kepada Ruslan dan keluarganya, harus segera dipenuhi. Namun disayangkan Uang Panai atau Pasorrong belum juga cukup.
Perasaan gelisah pada malam hari mulai menyelimuti Lukman di tengah ke khawatiran tidak bisa menepati janji yang ia tanam saat bertemu dengan Ruslan. Untuk menepati janjinya, ia mengunjungi berbagai kerabat dekat untuk meminta bantuan, tetapi yang berhasil di kumpul hanya sebanyak Rp 3.500.000 (Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah). Sementara ia harus berangkat besoknya untuk memenuhi janjinya.
Pada malam sebelum berangkat, ia sempat berfikir, jika memang Rusiana jodohnya, maka niatnya untuk menikah tidak akan batal. Karena uang yang dijanjikan belum cukup, Lukman berniat untuk menemui Ruslan dan meminta diberi waktu lagi selama satu tahun. Tetapi setiba di Palippi — Kabupaten Majene — Provinsi Sulawesi Barat. Lukman tak sanggup menyampaikan niatnya. Sebab dari rumah tetangga Rusiana, Lukman melihat Ruslan sedang marah. Karena takut menemui orang tua Rusiana, Lukman kemudian memutuskan kembali di Mamuju
Kurang dari satu Minggu di Mamuju, Lukman merasa semakin khawatir kepada keluarga Rusiana. Kemarahan besar terpatri di kepalanya, lantaran Uang Panai yang dinjanjikan masih kurang. Pada kondisi itu, tiba-tiba Rusiana menelepon.
“Na panggilki bapak kemari, mau bicara bapak,” kata Rusiana.
Dengan perasaan khawatir Lukman hanya manpu menjawab “Tidak ada motorku kasian”.
Terdengar memprihatinkan, ketulusan hati Rusiana muncul untuk berniat menjemput Lukman di Mamuju.
“Tunggumi saya bawa motor kesitu,” kata Rusiana.
Komunikasi lewat via telepon, membuat Lukman semakin takut. Dalam hatinya berkecamut, ketika ketemu dengan keluarga Rusiana dan tak manpu menyediakan uang yang dijanjikan bisa jadi ia akan di potong, sebab yang di hadapi adalah orang Mandar yang kental dengan budaya sirik (malu).
Besoknya, Rusiana tiba di Mamuju, Lukman pun segera mengantar Rusiana pulang. Tidak sampai di rumah Rusiana, Lukman memohon kepada calon istrinya untuk berhenti di rumah tetangganya. Lukman mangaku kepada Rusiana perasaannya lagi tidak baik dan meminta kembali di Mamuju dulu mencari tambahan uang, sambil meminta meminjang motor matic milik Rusiana. Tak tega melihat Lukman, Rusiana-pun meminjangkan motor miliknya dan meminta Lukman agar segera kembali.
Dalam perjalanan pulang di Mamuju, Lukman mala kebingunan dan tak tau lagi kepada siapa dan harus kemana meminta bantuan, sementara orang tua Rusiana sudah menunggu kepastian. Akibat perjalanan yang melelahkan dan dipenuhi kecemasan, Lukman hanya manpu terbaring lelah sesampai di Sekretariat Ansor Sulawesi Barat.
Begitu terbangun dari tidur lelahnya, ia mendapati jalan buntu. Dengan pasrah, ia-pun berniat kembali ke Palippi — Kabupaten Majene untuk menemui keluarga Rusiana. Segala konsekuensi telah siap di terima, walaupun harus mati. Kata Lukman dalam hati. Untuk mempersiapkan bekal di akhirat ia bertekad membaca surat Al Ikhlas, semenjak mulai melangkah dari pintu keluar Sekretariat Ansor hingga bertemu dengan Ruslan ayah dari Rusiana.
Lukman mulai bergegas dengan motor matic milik Rusiana. Ia menuju Palippi — Kabupaten Majene dengan jarak sekitar kurang lebih 100 Kilometer dari Sekretariat GP Ansor Sulawesi Barat. Ia mengantongi sisa uang yang dikumpul sebanyak Rp 3.300.000 (Tiga Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah).
Jalan yang berliku-liku di lalui, samping kiri dan kanan penuh jurang, serta keindahan alam Kabupaten Mamuju menuju Palippi — Kabupaten Majene tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik. Hanya Surat Al Ikhlas lah yang tak pernah putus ia baca sampai tiba di rumah tante Rusiana. Di tempat itu, ia melihat seperti ada kemarahan. Namun tak lama duduk, tiba-tiba Rusiana datang dan mengajak Lukman kerumahnya.
Saat itu juga, Lukman mulai gemetar, ia kembali membaca surat Al Ikhlas. Begitu masuk rumah, Lukman melihat bapak dan keluarga Rusiana sedang duduk sambil memperhatikan dirinya yang baru datang menemuinya.
Belum lama duduk, Ruslan langsung mengajukan pertanyaan kepada Lukman.
“Jadi? Sudah sampai ini waktunya,” tanya Ruslan.
“Minta maaf ini om, belum cukup uangku kasian,” jawab Lukman dengan terbata-bata.
“Terus berapaji uangmu,” Ruslan kembali mengajukan pertanyaan.
“Sekianji uangku, Tiga Juta Tiga Ratus Ribu. Tidak cukup,” kata Lukman dengan pasrah.
Ruslan tak ingin berlama-lama melayani Lukman yang bersikap apa adanya. Lewat nada tegas, Ruslan meminta adik laki-laki Rusiana yang bernama Andi.
“Panggil Imam, tunggui sampai selesai sholat,” minta Ruslan.
Begitu selesai Magrib, Ruslan langsung menjemput Imam yang baru saja masuk ke dalam rumahnya dan meminta langsung menikahkan Putrinya dengan Lukman.
“Kasih menikah ki ini anak-anak, tidak mau ka saya menghalangi Sunnahnya Rasul,” minta Ruslan kepada Imam. Mendengar permintaan orang tua Rusiana, Lukman kaget, lantaran dirinya tak menyangka calon mertuanya yang ia kenal biasa-biasa saja bicara seperti itu. Bahkan Lukman sendiri, sama sekali tidak ada persiapan untuk menikah. Mala sebelumnya ia berfikir untuk meminta waktu lagi.
Merespon permintaan Ruslan, tanpa basa-basi Imam langsung bertanya “Apa Passorongnya atau Maharnya?”.
Dengan segera Ruslan meminta Andi untuk menemani Lukman membeli perlengkapan alat sholat berupa Sajadah, Kerudung, Tasbih dan Sarung. Dalam perjalanan Lukman tak habis pikir. Antara percaya dengan tidak, dan bebera pertanyaan dalam hati membuat ia penasaran.
Setelah kembali, habis Isya, Lukman dan Rusiana diminta berwudhu sebelum ijab kabul. Di tempat wudhu Lukman mencoba mencari tahu kepada Rusiana apa yang sedang terjadi pada keluarganya.
“Kenapa bisa begitu bapak,” tanya Lukman.
“Saya juga tidak tau,” jawab Rusiana.
Rasa penasaran terus menghantui Lukman hingga ia kembali untuk melangsungkan akad nikah. Di tempat itu, hadir sekitar kurang lebih 20 orang, termasuk keluarga Rusiana, tetangga dan sahabat-sahabatnya.
Singkat cerita, suatu ketika setelah resmi menjadi suami istri, Lukman mencoba menceritakan kisahnya kepada salah satu Kyia di Mamuju.
“Surat Al Ikhlas itulah yang mencukupkan mahar atau uangmu yang kurang,” jelas Kyai itu kepada Lukman.
Penulis: Irwan
Komentar