MEDIAEKSPRES.id – Meskipun Imelda beragama Kristen Protestan, ia tetap peduli pada temannya yang beragama Islam. Dia tak pernah merasa terbebani mengirimkan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1441 Hijriah yang jatuh pada tanggal 24 Mei 2020 yang lalu.
Pesan gambar yang dikirim melalui via WhatsAap itu juga bertuliskan “Mohon Maaf Lahir Batin”. Bentuk dasarnya seperti bulan sabit — bergelantungan sejumlah bintang serta lentera yang seakan penuh harap atau doa, agar hati selalu di terangi dari segala kegelapan dunia.
“Saya senang ketika teman saya juga senang. Bagiku sama saja halnya menyampaikan ucapan selamat menempuh hidup baru untuk teman saya yang baru menikah,” ungkap alasan Imelda.
Sepintas dari perempuan kelahiran 1988 ini, jauh dari gengsi, tak pilih kasih untuk bersahabat dengan siapa saja “Selama Niatnya Baik” latar belakang perbedaan keyakinan-pun tak jadi masalah baginya.
Sebelumnya, kalimat Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin, dikirim oleh Jon Daniel. Pria kelahiran Kabupaten Mamasa ini, juga selalu peduli dengan laki-laki yang baru dikenalnya sekitar 5 tahun yang lalu. Meskipun berbeda agama, Jon Daniel tak pernah membatasi dirinya untuk menyapa adiknya yang beda ibu dan agama itu. Hingga di kalimat terakhir ia mengutip kalimat “Sehatki selalu dinda”.
Di hari yang sama, Minggu 24 Mei 2020, tepat pukul 20.37 wita, Aswan yang juga beragama Kristen mengirim pesan melalui via WhatsApp. “Mohon Maaf Lahir Batin Saudara,” pintahnya.
Aswan dan Imelda adalah Putra-Putri Kalumpang, Kabupaten Mamuju. Berteman sejak kuliah di Universitas Tomakaka Mamuju, angkatan tahun 2008. Mereka berdua menghargai perbedaan.
Sekilas tentang pandangannya, perbedaan keyakinan adalah anugrah yang harus dijaga dan di pererat bukan justru dibuat jadi penghalang dalam membangun silaturahmi.
***
Agama Cinta
“Aku bukanlah Nasrani, aku bukanlah Yahudi, aku bukanlah Majusi, Aku bukanlah Muslim, keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah, agar kita manpu bertemu pada suatu ruang murni tanpa dibatasi prasangka dan fikiran yang gelisah,” Maulana Jalaluddin Rumi.
Penulis: Irwan
Komentar