oleh

Lalu Saya Bisa Apa ketika Kamu hanya Memberikan Harapan?

MEDIAEKSPRES.id – Covid-19 menjadi masalah bersama yang tentu mesti dituntaskan bersama. Bukan lagi soal siapa yang mendapat apa, tetapi soal siapa yang merangkul siapa — terkhususnya untuk Kabupaten Mamasa — Bumi Kondosapata — yang terbentuk atas kecintaan terhadap budaya yang mengeratkan persaudaraan.

Wabah covid-19  mengiringi mekar dan tumbuhnya kepedualian yang mengantarkan pada pintu masuk menjemput romantisme di tempat ini.

Rangkulan tangan rakyat bantu rakyat — pemerintah daerah bantu rakyat — rakyat bantu pemerintah daerah — dan segala giat yang disebut cinta, menjadi modal awal memulihkan segala luka.

Keresahan tentu bukan hal yang mengenakkan, apalagi ingin dibuat bertahan lama. Para pemuda desa mengerahkan tenaga saling melindungi dusun masing-masing dengan penjagaan ketat. Para tetua merapalkan doa-doa kebaikan tak memandang untuk agama yang mana, para ibu tetap memeluk anaknya agar tidak bosan di rumah, para pelajar yang tetap berusaha untuk mengenyam pendidikan walau ‘di rumah aja’.

Kini pemerintah daerah yang menjadi acuan tertatanya masyarakat walau sedang dalam keresahan, meski kadang membuat naik pitam atas kebijakan tanpa kepastian. Bantuan tunai langsung atau BLT menjadi harapan baru mereka yang kini entah ingin berbuat apa.

“Kalau soal anggaran, sampai sekarang DPRD belum dapat pemberitahuan. Untuk itu saya sangat menyesalkan,” jawab Reskianto Taula’bi Kia, salah seorang DPRD Kabupaten Mamasa, ketika kutanya perihal anggaran untuk rakyat miskin, Rabu (23/4/2020).

Tentu pak, hal tersebut sangat patut disayangkan. Memberikan harapan adalah berbicara soal persiapan untuk berjalannya kehidupan esok hari. Sedangkan ketidakpastian dalam harapan, adalah berbicara soal bahagia yang masih digantungkan di awang-awang atau luka yang tertunda.

Anggaran yang dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat merupakan harga mati saat sekarang ini. DPRD sebagai lembaga representasi masyarakat juga berharap soal itu.

“Saya juga menuntut agar pemda benar-benar transparan dan akuntabel dalam hal penggunaan dana covid-19. Sampai sekarang DPRD belum pernah terima materi rencana alokasi anggaran perihal covid 19,” keluh Reskianto.

Seiring berjalan atas keterangan yang masih dalam rana ketidakpastian, hal ini adalah pengundang keresahan yang baru. Jika benar wakil rakyat telah menuntut kepastian, maka itu tindakan yang di harapkan masyarakat jua.

Terlalu lama bermain pada ketidakpastian adalah memilih jalan hidup yang sia-sia. Apalagi jika berbicara soal anggaran yang entah perkembangannya seperti apa, tentu itu ketidakjelasan yang menjadi bumerang di dada yang siap-siap diledakkan.

Berbicaralah pula perihal transparansi atau keterbukaan, atas apa yang masih terlihat sangat samar. Samar tentu tidak membuat nyaman, terhalangnya pandangan adalah kendala untuk mencapai revolusi, kadang hal tersebut yang menjadi landasan orang hanya mau mendengarkan saja.

Sedangkan mendegarkan tanpa melihat langsung membuat kisah seperti sepasang kekasih yang berbicara via telepon. Tentu ada yang mesti ditahan-tahan. Jika bukan rindu maka yang ditahan adalah ‘gerakan tambahan’.

Teori sederhana ini bisa mengantarkan kita pada inti bahwa tidak transparan membuat pergerakan tidak efektif.

“Saya berharap kita semua saling mendukung. Pemda mendukung masyarakat dan masyarakat harus mendukung pemda. Wabah ini hanya bisa dihindari apabila kita semua kompak mengikuti standar yang sudah ditetapkan oleh para medis dan pemerintah,” tutup Reskianto dengan segudang harapannya.

Tentu pak, Saling bantu tidak pernah luput dari hubungan manusia dengan manusia lain ataupun dari pemerintah daerah dengan manusia lain yang tidak berstatus pemerintah.

Mengaminkan dengan serius harapan tersebut adalah bentuk kecintaan terhadap segala yang di sebut kerinduaan. Kerinduaan atas bisanya kita beraktifitas seperti biasa, ataupun kerinduan atas mampunya kita menikmati tempat wisata mamasa yang masih di tutup hingga saat ini, atau kerinduan kita pada pertemuan yang tidak dihalangi oleh ketentuan jarak 1 meter.

Penulis: Firdha Mutmainnah

Komentar