oleh

Klarifikasi dan Permintaan Maaf Maman Suratman

MEDIAEKSPRES.id – Akun Facebook Maman Suratman kembali mengunggah status. Status tersebut menulis klarifikasi permintaan maafnya atas postingan sebelumnya yang melukai perasaan masyarakat Tapango.

Berikut permintaan maaf Maman Suratman yang diunggah di akun Facebooknya pada, Kamis, 25 Juni 2020.

Kepada semua pihak yang merasa terganggu atas unggahan saya tentang “maraqdiana to cangngo” di Facebook, 24 Juni 2020, berikut ini adalah klarifikasi sekaligus permintaan maaf saya secara pribadi. Tindakan ini saya lakukan dengan penuh kesadaran.

Pertama, terkait “maraqdia”. Kata yang saya maksud itu memiliki arti sebagai “Raja Sulbar”. Ini adalah bentuk satire yang merujuk langsung ke Gubernur Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar (ABM).

Saya tahu, Sulbar bukanlah kerajaan. Sulbar adalah provinsi, sebuah wilayah atau daerah yang dikepalai oleh seorang gubernur. Menyebut ABM sebagai Raja Sulbar, bukan Gubernur Sulbar, adalah tindakan keliru.

Kedua, tentang “to cangngo”. Frasa yang bermakna “orang bodoh” ini saya rujuk ke mereka yang menganggap ABM adalah Raja Sulbar. Tentu saya berani sebut mereka “bodoh” karena ABM, secara jabatan di Sulbar, bukanlah seorang raja. ABM adalah gubernur yang bertugas mengurusi tata kelola pemerintahan tingkat provinsi.

Saya memahami betul bahwa Sulbar bukanlah kerajaan. Sulbar adalah wilayah atau daerah yang dikepalai oleh seorang gubernur. Sehingga, jika ada yang menganggap ABM sebagai Raja, merujuk Sulbar secara administrasi, maka bisa dipastikan bahwa yang bersangkutan adalah orang bodoh.

Siapa yang menganggap ABM demikian, sebagai Raja Sulbar? Saya tidak tahu. Hanya kalau ada, dialah yang saya maksudkan sebagai “to cangngo”.

Baca juga: Pemuda Tapango Akan Laporkan Aqun Maman Suratman

Ketiga, adanya keterlibatan warga Tapango (sebuah kecamatan di Polewali Mandar) dalam unggahan tersebut membuat saya heran. Saya heran karena banyak tuduhan yang menganggap unggahan saya itu adalah upaya pelecehan atas diri atau kelompok mereka. Padahal, saya sama sekali tidak menyinggung, sedikit pun.

Saya yakin, itu murni kesalahpahaman belaka. Mereka menganggap frasa “maraqdiana to cangngo” itu merujuk ke ABM sebagai maraqdia di Tapango, sehingga maknanya jadi berubah: “orang bodoh” adalah “orang Tapango”. Sementara yang saya maksudkan adalah “Raja Sulbar”.

Alih-alih menyinggung kelompok mereka, saya sendiri baru tahu kalau ABM ternyata adalah “maraqdia” di Tapango. Atas kesalahpahaman itulah maka saya meminta maaf.

Ke depan, perkara ini akan saya jadikan pelajaran berharga. Saya lebih akan berhati-hati lagi dalam menggunakan media sosial. Saya sudah sadar, ternyata tidak semua pengguna media sosial bisa memahami sebuah unggahan sebagaimana yang pengunggah maksud.

Semoga klarifikasi dan permintaan maaf ini bisa berguna sebagaimana mestinya.

Hormat saya,
Maman Suratman

Reporter : Dzkaha
Editor : Mediaekspres.id

Komentar