oleh

Banser Sulbar, Kecam Pelaku Pembunuhan Keji di Nabire, Papua

MAMUJU, MEDIAEKSPRES.ID – Kasus pembunuhan yang terjadi di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua akibat kesalah pahaman mendapat berbagai kecaman, salah satunya Kasatkorwil Banser Sulbar, M. Ansar Thahir.

Ia mengecam tindakan pelaku pengeroyokan yang tidak berprikemanusiaan, yang merenggut nyawa Yus Yunus yang tidak bersalah itu.

Anshar bilang, kejadian pengeroyokan yang tidak berprikemanusiaan itu, merupakan masalah serius.

“Aparat hukum harus bertindak cepat, untuk menangkap pelaku pengoroyokan itu. Ini merupakan masalah serius yang tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” ujar dia di Mamuju, Kamis, (27/02/20).

Masih Ansar menyayangkan tindakan aparat kepolisian yang berada di lokasi kejadian itu, Tidak mengevakuasi Korban dari amukan massa. Padahal polisi memiliki tanggung jawab berhak mengamankan dan melepaskan tembakan peringatan guna menghindari jatuhnya korban jiwa.

Atas kejadian tersebut lanjut Ansar, mendesak Agar Kapolri untuk turun lansung menyelesaiakan masalah Tersebut dengan tempo yang sesingkat singkatnya dan mengevaluasi kinerja aparat Polri di wilayah tersebut.

Sebelumnya, Korban Yus Yunus (25) adalah supir truk warga dusun Taramanu, Desa Sumberjo, Kecamatan Wonomulyo Polewali Mandar, Sulbar.

Menurut Hasriani kakak kandung korban, korban Yus Yunus merantau ke Papua bekerja sebagai supir truk. Saat peristiwa terjadi, ia datang dari arah yang berlawanan, sebuah pengendara motor dengan kecepatan tinggi menabrak seekor babi. Pengendara motorpun itu terelempar jauh dan meninggal di tempat.

Yus Yunus mengendarai truk datang dari arah berlawanan, ia menghindari kecelakaan itu. Ia kemudian turun dari trucknya melihat korban sudah tak berdaya. Ia kemudian mengambil gambar pengedara motor yang kecelakaan tersebut, sebagai bukti untuk diperlihatkan langsung pada pihak kepolisian setempat.

Setelah Yus Yunus laporkan kejadian itu ke Polisi setempat, pihak berdatangan. Warga disekitarpun juga berdatangan, mereka marah akibat warganya meninggal kecelakaan.

Namun nasib Yus Yunus yang hendak melaporkan kejadian itu ke Polisi, menjadi amukan massa dikarenakan warga mengira Yus Yunus yang menabrak. Yus Yunuspun tak dapat menghindar ia pasrah hantaman demi hantaman menghujani tubuhnya, dengan kayu dan batu digunakan warga, yang mebuat Yus Yunus harus tak berdaya dan akhirnya meninggal.

“Pengendara motor itu laju, akhirnya dia tabrak babi, setelah tabrak babi si pengendara motor ini terlempar kurang lebih 15 meter dan meninggal. Akhirnya ini mobil adek ku, dari arah yang berlawanan kan otomatis menghindari kecelakaan yang terjadi di jalan, dia langsung banting setir,” ucap Hasriani di lansir dari editorial9.com.

Atas peristiwa itu, Hasriani mengaku sangat menyayangkan dan tidak menerima peristiwa yang menimpah adiknya tersebut, lantaran saat itu korban Yus Yunus, dihakimi oleh sekelompok massa saat berada ditengah-tengah keramaian aparat kepolisian, dengan bersenjata lengkap.

Seharusnya lanjut Hasriani, Pihak kepolisian, dikalau kewalahan pergi minta bantuan.

“Ataukah banyak tindakan yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan adekku. Tapi dia tidak lakukan, itu yang sangat saya tidak terima, sangat disesalkan sekali, kenapa ada aparat seperti ini, yang katanya mengayomi, melindungi, kok seperti ini kejadiannya tidak ada tindakan,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, bahwa pihaknya bersama dengan keluarga, akan terus berupaya mengusut tuntas peristiwa yang merenggut nyawa adik kandungnya itu.

“Upaya, kami terus berusaha untuk usut kasus ini supaya mendapat keadilan dan selesai dengan tuntas dan sebenar-benarnya,” tegasnya.

Hasriani juga berharap, adanya bantuan dari pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, dan Provinsi Sulawesi Barat, untuk dapat membantu proses penyelesaian kasus hukum, yang merenggut nyawa adik kandungnya itu.

“Saya mohon kasihan pemerintah setempat disini, Sulawesi Barat kasian, bantu kasian, untuk menyelesaikan masalah ini, karena kebenaran ji yang kita cari, keadilan ji yang kita cari,” tutupnya.

Reporter : Chandraqa
Editor : Irwan

Komentar